Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2021

Keberuntungan Berpihak Kepada Orang yang Berani dan Mau Belajar

Gambar
Sumber Gambar: Unsplash Oikkkkk, apa kabar semuanya? Lama tak menulis dan becakap kita bah. Hihhii. Kali ini aku mau becakap masalah belajar. Karena isi tulisan kali ini lebih ke curcol maka bahasanya pakai bahasa sehari-hari saja lah, ya. Jadi tanggal 30 Mei nanti tepatlah satu tahun aku memutuskan mau serius belajar menulis. Awalnya aku menulis dengan misi menulis untuk pulih. Harapannya banyak hal baik bisa dibagikan. Ternyata oh ternyata. Hobi membaca sejak ketek nonet alias dini tak membuat aku otomatis pinter menulis juga. Siapa pulak yang bilang rajin membaca jadi pinter menulis, Marjul? Aku barusan makanya jadi bersamburetan alias berantakan. Semakin hari semakin palaku berat karena misi ini. Hahahahha. Berat kali rupanya yang menulis ini, ya. Membagikan hal baik pun perlu ada ilmunya. Perlu belajar banyak hal.   Setahun yang lalu aku bisa nulis cerpen dalam beberapa jam, kalau sekarang seminggu pun kadang gak siap satu cerpen. Entahlah karena apa ini ya kan. Pening p

𝐊𝐨𝐧𝐟𝐚𝐛𝐮𝐥𝐚𝐬𝐢: 𝐌𝐞𝐧𝐲𝐢𝐬𝐢𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐬𝐚𝐝𝐚𝐫𝐚𝐧 𝐁𝐚𝐫𝐮 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐓𝐚𝐤 𝐒𝐞𝐩𝐞𝐧𝐮𝐡𝐧𝐲𝐚 𝐏𝐚𝐥𝐬𝐮

Gambar
Sumber Gambar: Instagram Angga Sasongko Bilal (Reza Rahadian) adalah seorang agen yang memiliki misi memberantas teroris. Misinya hampir berhasil kalau saja memori masa lalunya tak menghantuinya lagi. Saat akan mengeksekusi target yang sudah dikunci, Bilal tak mampu menyelesaikan tugasnya. Apa sebab? Bilal melihat potongan masa lalunya di dalam diri tersangka. Hal ini membuat dia disinyalir tak akan mampu menyelesaikan misinya. Memori masa lalu ini membuat Bilal tak mampu bereaksi cepat. Padahal misi Bilal sudah dirancang untuk melindungi 150 orang lainnya di dalam gedung. Bila tidak segera bertindak, bom di tangan tersangka akan meledak. Mana yang akan Bilal pilih? Masa lalunya atau keselamatan orang yang kini ada di tangannya. Hal ini membuat atasan Bilal bertindak segera. Sebelum Bilal semakin tidak bisa menyelesaikan tugasnya sebagai agen, dia dikirim menemui Marla (Dian Sastrowardoyo) seorang ahli neurosains. Menurut wikipedia, neurosains  merupakan bidang kajian sistem saraf

𝐄𝐝𝐦𝐢𝐧𝐮𝐬: 𝐑𝐞𝐚𝐥𝐢𝐬 𝐒𝐮𝐫𝐞𝐚𝐥𝐢𝐬 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐁𝐞𝐫𝐩𝐚𝐝𝐮 𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐑𝐚𝐬𝐚 𝐋𝐚𝐩𝐚𝐫

Gambar
Dokumentasi Pribadi Maria Julie Simbolon Sabtu malam ini berbeda. Aku menghabiskan waktu untuk menyaksikan pertunjukan seni peran di salah satu rumah kreatif dengan tema Jalan Puasa Edminus. Setelah mengikuti semua protokol kesehatan, aku dipersilakan memasuki ruangan teater. Saat menginjakkan kaki, mataku bersirobok dengan sebuah dipan besar berkelambu putih menjuntai. Dokumentasi Pribadi Maria Julie Simbolon Kulihat beberapa orang sudah duduk bersila di atas tikar yang sudah disediakan penyelenggara. Dua orang yang kukenal baik di ruangan itu sedang sibuk menyambut para tamu yang hadir, sisanya wajah-wajah asing sedang asyik bercengkrama sambil mengisap cerutu. Aku mengambil posisi duduk sekitar sedepa dari mereka. Di sebelahku duduk tenang seorang pria berusia empat puluhan. Dia tampak menekuri sarung yang sedang dipakainya. Sesekali dia merapikan rambutnya yang panjang sepinggang. Sekali lagi kulihat dia sedang memegang pelan kakinya yang berbalut perban. Belakangan kutahu kala

𝐌𝐢𝐧𝐝𝐞𝐫? 𝐒𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢 𝐊𝐚𝐩𝐚𝐧?

Gambar
  Sumber Gambar: Unsplash Salah satu cara melihat orang minder adalah saat ditanyakan apa kelebihan dan kekurangannya. Bila dirimu lebih cepat menuliskan kekurangan daripada kelebihan, itu tandanya apaaaaaaaa? Jawab sendiri, ya. Hahahhahaah. Caleb Lareau, saat berbicara di acara Ted Talks, mengungkapkan kalau dia sering minder karena penampilan fisiknya. Setiap kali melihat tampilan dirinya yang terpantul di cermin timbul perasaan malu karena postur dan bentuk wajah. Satu waktu Caleb mendapatkan pasangan yang sangat cantik. Hal ini membuat kepercayaan dirinya mulai tumbuh. “Ternyata jelek-jelek begini, aku bisa kok punya pacar cantik.” Kira-kira begitulah pikirannya. Namun, kesenangan dan perasaan bahagia itu tak bertahan lama karena Caleb dan pacar cantiknya putus. Dia pun kembali merasa minder. Sering kali pendapat, dan validasi dari orang di sekitar membuat seseorang meragukan konsep dirinya. Di saat duduk di bangku menengah pertama, aku terbiasa dikata-katai dan diberi berbagai

𝐁𝐮𝐤𝐮 𝐒𝐚𝐤𝐮 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐚𝐭𝐚𝐬𝐢 𝐒𝐞𝐠𝐚𝐥𝐚 𝐊𝐞𝐤𝐚𝐜𝐚𝐮𝐚𝐧 𝐏𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧

Gambar
  Sumber Gambar: Unsplash Pernahkah kau merasa pikiranmu begitu penuh sehingga sulit untuk memikirkan hal penting lainnya? Setiap hari kita seolah dituntut untuk melakukan banyak pekerjaan dalam sekali waktu. Memasak makan malam sambil menyuapi anak, menyetrika sambil mengawasi anak belajar, menjawab email pekerjaan di jalan menuju supermarket, menyetir sambil membalas pesan dari atasan dan lain sebagainya. Atau pernahkah dirimu susah tidur terlelap karena memikirkan berbagai kemungkinan di depanmu? Memikirkan kemungkinan bisnismu akan maju atau tidak, memikirkan tabungan cukup untuk biaya sekolah anak atau tidak, memikirkan kemampuanmu untuk menyekolahkan anak setinggi-tingginya atau memikirkan kontrakan yang sebentar lagi jatuh tempo. Ketika pikiran tadi begitu menghantui setiap proses hidup, sering tubuh ini mengalami menjadi kewalahan dan kelelahan berkepanjangan. Pikiran akan menjadi sulit fokus untuk menyelesaikan pekerjaan tadi karena rasa lelah dan sakit di sekujur tubuh.

Mengapa Sulit Tobat dari Kebiasaan Lama?

Gambar
Sumber Gambar: Unsplash Seingatku sejak dulu aku selalu mengerjakan sesuatu dengan ketakutan dan kecemasan berlebih. Aku takut tak mampu. Aku takut tak bisa lebih baik. Aku takut hasilnya tak sesuai dengan harapanku. Ekspektasi ini menghadirkan ketakutan lain yang lebih besar. Aku takut berubah. Setiap kali aku menyadari perasaan ini, aku akan bertekad untuk tobat, tidak cemas, tidak meletakkan ekpektasi apapun dan akan mengerjakan tujuanku lagi dengan riang gembira. Puih! Bagaimana mengatasi kondisi ini? Padahal berubah ke arah yang lebih baik adalah keharusan. Aku membaca banyak literasi terkait ini. Hasilnya aku (pande-pandean) menduga kalau aku mengalami mental block. Aku sempat konsultasi masalah ini kepada salah satu trauma healerku. “Aku kok ngeyelan ya anaknya? Mau berubah tapi kok balik lagi dan balik lagi ke mode default?” Beliau tak membantah dugaanku. Hanya saja beliau mengatakan sebaiknya aku berhenti melabeli diri dan fokus kepada solusi serta mulai mengurai akar ke